26 Juni, 2009

Evaluasi Semester Lalu

Berapa hari nih saya ketinggalan blogging. Kemarin adalah hari dibagikan rapor anak saya. Menurut saya sih hasilnya lumayan untuk anak seperti dia (masih susah berkonsentrasi lama dengan satu pekerjaan). Ada beberapa hal yang harus dievaluasi selama kelas 1 terutama semester II.

Sejak anak saya di TK, saya selalu menanyakan: “Kenapa anak TK dipaksa belajar menulis dan membaca?”. Kata mereka karena kurikulum SD mengharuskan anak masuk SD harus bisa membaca dan menulis, sehingga tingkat TK pun harus menyesuaikannya. Menurut yang saya tahu, TK tidak mengajarkan membaca dan menulis, di TK hanya ada bermain dan sekedar pengenalan huruf saja. Seharusnya  TK lebih menekankan pengenalan konsep sekolah dan sosialisasi  dengan teman sebaya, pokoknya membentuk karakter anak yang lebih kuat.

Sekolah anak saya konon sekolah pavorit, katanya Wakil Walikota Bandung sekarang alumni SD itu. Sehingga, mereka menetapkan standar (menurut mereka) sangat tinggi. Masuk SD, anak saya sudah bisa membaca dan (sedikit) menulis. Saya selalu membiasakan anak saya belajar setiap hari, tetapi hanya dalam rentang waktu 1 jam saja. Hal ini disebabkan anak saya belum bisa berkonsentrasi terlalu lama dengan satu pekerjaan, terutama menulis. Jadilah tulisan anak saya tidak terlalu bagus (walaupun menurut saya sih cukup untuk ukuran kelas 1 SD). Tetapi rupanya tuntutan guru kelasnya berbeda, anak harus menulis huruf lepas dan huruf sambung dengan rapi! Pernah suatu hari anak saya gak mau sekolah karena di kelas dibilangin tulisannya jelek.

Satu hal lagi, pelajaran Bahasa Inggris. Menurut saya, Bahasa Inggris bukan pengetahuan umum yang harus dihafal. Tetapi bahasa (secara umum) adalah alat komunikasi lisan atau tuliasan sehingga kita bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan kita kepada orang lain. Ada yang aneh, soal ulangan Bahasa Inggris adalah menuliskan kata-kata dalam Bahasa Inggris. Wah, tidak ada cara lain mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak kelas 1 SD? Menulis dalam Bahasa Indonesia saja masih belajar, bagaimana menulis dalam Bahasa Inggris? Saya menekankan anak saya untuk bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar dulu dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Setelah itu, baru belajar Bahasa Inggris.

Sehingga perlu pengembangan cara belajar nih setelah kelasa II:

  1. Bunda akan menyediakan waktu lebih banyak untuk menemani Ijlal belajar
  2. Mulai menambah jam belajar dan mengurangi jam main
  3. Mengurangi membeli mainan dan dialihkan untuk membeli buku
  4. Program membaca koran untuk anak-anak
  5. Menulis jurnal setiap hari( latihan menulis): mengungkapkan perasaan dan pengalaman dalam satu hari
  6. Belajar “berbahasa” Inggris dengan benar

You did your best my son, i proud of you. Gambatte kudasai (always do your best).

20 Juni, 2009

Sunat dengan Laser?

Liburan sekolah ini, anak saya rencananya mau disunat. Mualilah saya merencanakan segala hal yang berkaitan dengan acara sunatan. Tidak ada rencana yang istimewa.Karena kesibukan saya, sehingga susah kalau harus mengadakan terlalu ribet. Kalau ayahnya Ijlal sih semangat sekali, semua saudara yang di Lampung dikasih tahu. Sudah saya jelaskan di posting Nama Panggilang di Keluarga Lampung, bahwa mereka sangat erat hubungan kekeluargaannya. Dan saya katakan sama dia: “Kenapa sih mau sunat aja seluruh dunia harus dikasih tahu? Cukup kita berdoa mudah-mudahan cepat sembuh dan sebagai tanda syukur cukup tetangga yang diberi tahu.” Jawab suami saya: “Bunda sih gak pernah disunat, jadi tidak tahu seperti apa disunat.” Iya deh.

Tapi saya tetap tidak bergeming, saya tidak mau menyelenggarakan acara yang ribet. Yang pertama (dan yang terpenting) dilakukan adalah  mencari informasi tentang dokter yang mau nyunat anak saya. Ternyata ada tambahan keterangan di tempat dokter sunat, “sunat dengan metode laser”. Dengan iklannya:

  1. Cepat kering
  2. Tidak berdarah
  3. Perawatan di rumah lebih mudah
  4. Proses khitan lebih cepat

Hmm benarkah demikian?

LASER (light amplification by simulated emission of radiation) adalah sinar (yang berasal dari radiasi elektromagnetik, panjang gelombangnya bermacam-macam) yang dibuat panjang gelombangnya (atau frekuensinya) menjadi monokrom (satu macam panjang gelombang). Caranya dengan metode optik refleksi gelombang pada bahan yang sangat reflektif. Wah, agak ribet menjelaskannya. Dalam fisika, ada bagian khusus yang menjelaskan hal ini.

Aplikasi laser banyak sekali. Misalnya, pinter laser, CD player, pemotong dalam industri dll. Kalau dalam kedokteran ada Lasik, operasi dengan laser, untuk kecantikan dll. Sebenarnya laser yang dihasilkan banyak sekali jenisnya (tergantung panjang gelombang yang dihasilkan), ada x-ray laser (1 nm), laser infra merah (1nm-1cm), laser gelombang radio (1m-1km) dll. Sehingga, penggunaan laser sudah sangat umum digunakan. Masalahnya sekarang apakah dokternya cukup kompeten dalam menggunakan laser ini? Jawabannya sulit, apakah saya harus bertanya: “Dokter, pernah ikut pelatihan penggunaan laser gak?” Sebenarnya bisa saja, itu hak kita sebagai konsumen. Tapi, di Indonesia gak umum juga kali, dokter dipandang manusia super segala bisa. Saya pikirkan dulu bagaimana caranya..

19 Juni, 2009

Nama Panggilan di Keluarga Lampung

Anakku: “Bunda, kapan sih kita ke Lampung?”
Aku: “ Nanti yah, kalau lal liburnya lama.”
Anakku: “Waktu kemarin lal libur seminggu, kita nggak ke Lampung?”
Aku: “Kan sudah bunda bilang, waktu itu pekerjaan bunda tidak bisa ditinggal.”
Anakku:”Jadi kapan?(Mulai menangis)?”
Aku: “Nanti yah kalau setelah lal dibagi raport, kenapa sih lal nggak sabar gitu?”
Anakku: “Lal kangen sama saudara-saudara lal di Lampung.”

Anakku benar-benar sudah kangen dengan saudara-saudaranya di Lampung. Ikatan persaudaraan di Lampung sangat kuat. Walaupun sepupunya ipar kakak saya, tetap saja mereka selalu bilang sekele ekam (maksudnya saudara saya). Kalau dikatakan saudara tidak main-main, mereka akan dengan senang hati menolong berupa materi atau tenaga. Pokoknya tidak akan takut kelaparan dan kesusahan deh, selalu ada orang bersedia menolong. Konsekuensinya, kita juga harus siap sedia jika ada saudara yang minta tolong (dalam hal “apapun”).

Orang Lampung biasa mempunyai nama panggilan dalam keluarga (sering kali saya tidak tahu nama aslinya). Hal ini sering membuat repot bagi orang bukan Lampung seperti saya. Tidak ada panggilan yang sama untuk setiap orang. Satu keluarga yang terdiri dari kakek-nenek, ayah-ibu, anak-menantu, kakak-adik, paman-bibi, cucu-cucu punya panggilan masing-masing. Berbeda dengan kebiasaan orang Sunda seperti di keluarga saya. Misalnya, semua kakak perempuan dipanggil teteh, yang membedakan hanya ditambah nama di belakangnya.

Jika statusnya sudah kakek-nenek, semua yang statusnya cucu harus memanggil dengan panggilan yang sama. Panggilan untuk Kakek (sebagian, saya tidak hafal semua): “atuk”, “opa”, “kakek”, “abah”, “sidi” dll. Nenek: “nyai”, “oma”, “siti”,“ninda” dll . Untuk anak, selain nama asli pemberian orang tuanya, biasanya kakek-nenek akan memberi nama panggilan khusus untuk mereka. Biasanya nama-nama berbau Arab, seperti “Umar”, “Sidik”,dll untuk cucu laki-laki. Untuk cucu perempuan misalnya “Maesaroh”, “Maemunah”, dll. Jika kakek-neneknya meninggal , nama tersebut akan ikut hilang.

Panggilan antar saudara kandung berbeda. Anak laki-laki pertama disebut “kiay”. Nama ini khas sekali sebagai tanda kebanggaan kepada anak ke-1, orang Lampung sangat membanggakan anak ke-1. Selanjutnya ada “abang”, “Bung”, “kakak”, “adin” dll. Semua orang yang umurnya di bawah dia (bukan hanya saudara kandung, saudara sepupu juga) akan memanggil dengan nama tersebut. Untuk anak perempuan ada “atu”, “sus”, “susi”, “yunda”, dll. Pokoknya semakin banyak anaknya, orang tuanya harus semakin kreatif membuat nama panggilan untuk anaknya selain nama asil untuk dicantumkan dalam akte kelahiran.

Untuk paman-bibi ada banyak sekali jenis nama panggilan dari keponakan-keponakannya. Untuk paman “Pak Cik”, “Om”, “Abi”, “Pak Su” dll. Untuk bibi ada: “Ibu Muda”, “Ibu Bungsu”, “Tante”, “binda”dll. Seringkali saya lupa dengan panggilan masing-masing orang, sehingga kalau lupa untuk amannya saya akan panggil “tante” atau “Om”. Biasanya mereka akan bilang: “Jangan panggil tante, panggil aja “Ibu Suhunan” (misalnya).” Aman, selanjutnya diingat-ingat jangan sampai membuat kesalahan lagi. Sip deh.

Spesial untuk menantu perempuan seperti saya. Pertama agak kaget juga (awal saya menikah, buta budaya Lampung), mertua saya memberi nama panggilan. Semua anggota keluarga tidak diperkenankan memanggil nama asli (tidak sopan katanya). Hal ini sebagai tanda penghormatan dan pengakuan bahwa saya diakui sebagai anggota keluarga mereka. Saya diberi nama “Pelita”, konon katanya mudah-mudahan saya bisa memberi cahaya (semacam pencerahan gitu) di keluarga. Mirip lampu petromak gitu he he. Semua orang akan memanggil saya dengan nama tersebut. Keponakan-keponakan saya akan memanggil “Ibu Pelita” (ibu lampu, mungkin). Menantu-menantu perempuan yang lain juga diberi nama panggilan yang “aneh-aneh” misalnya “anjungan”, “indahan”, “pujangga”, “suhunan” dll.

Saya sangat kagum dengan budaya mereka dan banyak belajar dari budaya mereka. “Siap-siap kita liburan ke Lampung ya nak.”

18 Juni, 2009

Kantin Kejujuran

Anakku: “Bunda, di sekolah lal (nama anakku Ijlal) ada kantin kejujuran lo.”Aku: “Oh, kantin kejujuran apa sih?”Anakku: ” Kantin kejujuran itu, ada makanan dan minuman di meja juga kotak  tempat naro uang. Kita boleh ngambil makanannya tapi harus naro uang juga di kotaknya.”Aku:”Oh..” “Lal, sudah beli di kantin kejujuran belum?”Anakkku: “Belum, da lalnya lupa uang jajan lal dibeliin mainan (anak saya lebih suka beli mainan daripada makanan, karena kenyang makan di rumah).”Aku: “Kanapa sih ada kantin kejujuran segala?”Anakku: ” Kata ibu Guru biar gak jauh-jauh kalo mau jajan (yah..gak nyambung deh sama tujuannya).”Aku:”Kenapa namanya kantin kejujuran?”Anakku:” Ih bunda ini, kan anak-anak biar jujur harus naro uang sesuai harga makanannya.”Aku:”Oh gitu, kalo misalnya bunda naro uang gak sesuai? Hukumannnya apa?”Anakku:”Gak ada, itu mah Allah yang menuliskannya.”Aku:”Oh..”

Itu adalah sepenggal percakapan saya sama Ijlal (anakku) yang bercerita bahwa ada kantin yang baru di sekolahnya bernama “Kantin Kejujuran”.  Menurut kamus Bahasa Indonesia, jujur: 1 lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); 2 tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas;ke·ju·jur·an n sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan ~ anak muda itu.

Mungkin tujuan didirikan kantin kejujuran tersebut adalah menunaikan arti jujur yang ke-2 “tidak curang”.

kantin "jujur"

Gambar diambil dari website Pikiran Rakyat

Sudah tercapaikah tujuan tersebut? Saya banyak membaca tentang pendirian  kantin ini, tidak mendapat tanggapan antusias dari masyarakat. Tujuan awalnya adalah melatih kejujuran anak-anak sejak dini kepada anak-anak khususnya masyarakat pada umumnya. Ternyata kurang (mungkin tidak) tercapai, kantin malah bankrut.

Lalu apakah yang sudah jujur mendapat penghargaan, dan yang tidak jujur mendapat hukuman? Mungkin di sini letak kesalahannya. Kita terpaksa harus membuat sistem yang memaksa orang untuk berbuat jujur dengan membuat sistem yang mengharuskan orang berbuat jujur. Bahkan mahasiswa saya pun harus dipaksa menandatangani surat perjanjian tanda akan jujur menjalani ujian. Dan hasilnya tidak ada yang mencontek. Untuk bersikap jujur perlu kontrol dari luar, karena secara alami orang akan berbuat tidak jujur.

Sehingga, untuk berharap aparat pemerintah bersikap jujur perlu kontrol dari masyarakat dan hukum. Kita tidak bisa mengharapkan begitu saja supaya mereka bersikap jujur. Perlu ada mekanisme yang mengatur sistem berjalan dengan baik dan setiap individu didalamnya mematuhinya.

Yah, kita lihat saja nanti apakah kantin di sekolah Ijlal akan bertahan lama atau bankrut juga.

Ngomong-ngomong, tampilan blog saya kok standard amat. Wah, perlu belajar lagi membuat tampilan blog yang bagus.

17 Juni, 2009

Blog saya masih hidup ternyata..

Wow, blog saya masih hidup… ajaib. Berapa lama saya tinggalkan ya? He he

Kenapa saya tinggalkan dan sekarang dibuka lagi? Ah, pertanyaan yang rumit. Jujur saja saya kurang suka menulis, dari SD dulu. Entahlah, apakah karena sistem pendidikan yang salah sehingga anak-anak Indonesia kurang suka menulis atau emang dasar sayanya aja yang aneh. Jadi kalau baca tulisan sendiri suka nggak enak sendiri (karena nggak PD dengan tulisan sendiri), jadi saya itu jarang membaca ulang tulisan sendiri lo.

Yah, tapi ternyata dengan terpaksa saya harus banyak menulis. Karena tuntuan pekerjaan yang mengharuskan membuat laporan, ulasan, dll. Begitu dapat tugas menulis, hmm..”dua jam tertegun” (tertegun kok 2 jam, itu sih melamun). Nulis apa yah, padahal sih di otak sudah ada bahan tulisan. Tapi, gimana menyampaikan tulisan tersebut jadi suatu rangkaian kalimat dan jadi cerita, susaaah banget.

Terpaksa deh harus belajar menulis. Nah, sepertinya dengan terpaksa blog ini  harus dihidupkan kembali sebagai ajang latihan menulis. Pokoknya isinya blog ini campur sari deh. Bagi Anda yang pernah nyasar masuk blog saya, maaf ya tulisan amatiran. Mulai menulis dari mana ya.. (yah, bingung lagi deh).