Berapa hari nih saya ketinggalan blogging. Kemarin adalah hari dibagikan rapor anak saya. Menurut saya sih hasilnya lumayan untuk anak seperti dia (masih susah berkonsentrasi lama dengan satu pekerjaan). Ada beberapa hal yang harus dievaluasi selama kelas 1 terutama semester II.
Sejak anak saya di TK, saya selalu menanyakan: “Kenapa anak TK dipaksa belajar menulis dan membaca?”. Kata mereka karena kurikulum SD mengharuskan anak masuk SD harus bisa membaca dan menulis, sehingga tingkat TK pun harus menyesuaikannya. Menurut yang saya tahu, TK tidak mengajarkan membaca dan menulis, di TK hanya ada bermain dan sekedar pengenalan huruf saja. Seharusnya TK lebih menekankan pengenalan konsep sekolah dan sosialisasi dengan teman sebaya, pokoknya membentuk karakter anak yang lebih kuat.
Sekolah anak saya konon sekolah pavorit, katanya Wakil Walikota Bandung sekarang alumni SD itu. Sehingga, mereka menetapkan standar (menurut mereka) sangat tinggi. Masuk SD, anak saya sudah bisa membaca dan (sedikit) menulis. Saya selalu membiasakan anak saya belajar setiap hari, tetapi hanya dalam rentang waktu 1 jam saja. Hal ini disebabkan anak saya belum bisa berkonsentrasi terlalu lama dengan satu pekerjaan, terutama menulis. Jadilah tulisan anak saya tidak terlalu bagus (walaupun menurut saya sih cukup untuk ukuran kelas 1 SD). Tetapi rupanya tuntutan guru kelasnya berbeda, anak harus menulis huruf lepas dan huruf sambung dengan rapi! Pernah suatu hari anak saya gak mau sekolah karena di kelas dibilangin tulisannya jelek.
Satu hal lagi, pelajaran Bahasa Inggris. Menurut saya, Bahasa Inggris bukan pengetahuan umum yang harus dihafal. Tetapi bahasa (secara umum) adalah alat komunikasi lisan atau tuliasan sehingga kita bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan kita kepada orang lain. Ada yang aneh, soal ulangan Bahasa Inggris adalah menuliskan kata-kata dalam Bahasa Inggris. Wah, tidak ada cara lain mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak kelas 1 SD? Menulis dalam Bahasa Indonesia saja masih belajar, bagaimana menulis dalam Bahasa Inggris? Saya menekankan anak saya untuk bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar dulu dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Setelah itu, baru belajar Bahasa Inggris.
Sehingga perlu pengembangan cara belajar nih setelah kelasa II:
- Bunda akan menyediakan waktu lebih banyak untuk menemani Ijlal belajar
- Mulai menambah jam belajar dan mengurangi jam main
- Mengurangi membeli mainan dan dialihkan untuk membeli buku
- Program membaca koran untuk anak-anak
- Menulis jurnal setiap hari( latihan menulis): mengungkapkan perasaan dan pengalaman dalam satu hari
- Belajar “berbahasa” Inggris dengan benar
You did your best my son, i proud of you. Gambatte kudasai (always do your best).
