Anakku: “Bunda, di sekolah lal (nama anakku Ijlal) ada kantin kejujuran lo.”Aku: “Oh, kantin kejujuran apa sih?”Anakku: ” Kantin kejujuran itu, ada makanan dan minuman di meja juga kotak tempat naro uang. Kita boleh ngambil makanannya tapi harus naro uang juga di kotaknya.”Aku:”Oh..” “Lal, sudah beli di kantin kejujuran belum?”Anakkku: “Belum, da lalnya lupa uang jajan lal dibeliin mainan (anak saya lebih suka beli mainan daripada makanan, karena kenyang makan di rumah).”Aku: “Kanapa sih ada kantin kejujuran segala?”Anakku: ” Kata ibu Guru biar gak jauh-jauh kalo mau jajan (yah..gak nyambung deh sama tujuannya).”Aku:”Kenapa namanya kantin kejujuran?”Anakku:” Ih bunda ini, kan anak-anak biar jujur harus naro uang sesuai harga makanannya.”Aku:”Oh gitu, kalo misalnya bunda naro uang gak sesuai? Hukumannnya apa?”Anakku:”Gak ada, itu mah Allah yang menuliskannya.”Aku:”Oh..”
Itu adalah sepenggal percakapan saya sama Ijlal (anakku) yang bercerita bahwa ada kantin yang baru di sekolahnya bernama “Kantin Kejujuran”. Menurut kamus Bahasa Indonesia, jujur: 1 lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); 2 tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg jujur dan disegani; 3 tulus; ikhlas;ke·ju·jur·an n sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan ~ anak muda itu.
Mungkin tujuan didirikan kantin kejujuran tersebut adalah menunaikan arti jujur yang ke-2 “tidak curang”.

Gambar diambil dari website Pikiran Rakyat
Sudah tercapaikah tujuan tersebut? Saya banyak membaca tentang pendirian kantin ini, tidak mendapat tanggapan antusias dari masyarakat. Tujuan awalnya adalah melatih kejujuran anak-anak sejak dini kepada anak-anak khususnya masyarakat pada umumnya. Ternyata kurang (mungkin tidak) tercapai, kantin malah bankrut.
Lalu apakah yang sudah jujur mendapat penghargaan, dan yang tidak jujur mendapat hukuman? Mungkin di sini letak kesalahannya. Kita terpaksa harus membuat sistem yang memaksa orang untuk berbuat jujur dengan membuat sistem yang mengharuskan orang berbuat jujur. Bahkan mahasiswa saya pun harus dipaksa menandatangani surat perjanjian tanda akan jujur menjalani ujian. Dan hasilnya tidak ada yang mencontek. Untuk bersikap jujur perlu kontrol dari luar, karena secara alami orang akan berbuat tidak jujur.
Sehingga, untuk berharap aparat pemerintah bersikap jujur perlu kontrol dari masyarakat dan hukum. Kita tidak bisa mengharapkan begitu saja supaya mereka bersikap jujur. Perlu ada mekanisme yang mengatur sistem berjalan dengan baik dan setiap individu didalamnya mematuhinya.
Yah, kita lihat saja nanti apakah kantin di sekolah Ijlal akan bertahan lama atau bankrut juga.
Ngomong-ngomong, tampilan blog saya kok standard amat. Wah, perlu belajar lagi membuat tampilan blog yang bagus.
& Komentar
18 Juni, 2009 pukul 1:20 pm
Ngomongin kantin “Jujur” kok endingnya malah tampilan blog sih mbak YY?
Setahuku sih hampir di setiap sekolah sekarang sudah digalakkan yang namanya kantin kejujuran, termasuk koperasi “jujur”. Tulisan ama bloge oke juga mbak YYanti
18 Juni, 2009 pukul 1:25 pm
Iya nih, masih jadi blogger amatiran Mas Wandi. Jadi merasa tidak puas dengan tampilan dan tulisan sendiri soalnya.
Terima kasih sudah mampir
18 Juni, 2009 pukul 1:33 pm
Kejujuran memang perlu dan harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.Bayangkan kalau setiap pengunjung warung malu (ambil lima bilang telu) pasti cepat bangkrut tuh warung
Blog ini sih sudah oke,kalau mau mantap lagi ya dipasangi janur kuning atau umbul2 gitu mbak.
18 Juni, 2009 pukul 1:47 pm
Saya sering saya temui malah yang jualannya yang gak jujur, misalnya mengurangi timbangan (paling sebel deh). Mudah-mudahan aja “kantin kejujuran” bukan projek sesaat.
Terima kasih pak, saya sedang baca e-book jadi webmaster. Tapi kok susah yah.
18 Juni, 2009 pukul 1:53 pm
kalo mikirin tampilannya ntar isinya gak di pikirin mbak
salam kenal mbak, simple blog
18 Juni, 2009 pukul 2:31 pm
Itulah mas Wahyoe, kebanyakan maunya tapi cetek kemampuannya. Rupanya harus banyak belajar. Terima kasih sudah mampir.
18 Juni, 2009 pukul 7:27 pm
Bersikap jujur dalam dunia “pendidikan” sepertinya sikap moral yg amat berat untuk dilaksanakan. Saya sampai bingung harus bersikap bagaimana ketika menghadapi UN. Jujur berarti harus merelakan ratusan siswa untuk tidak lulus. Tapi untungnya masyarakat terutama aparat pengontrol sangat mendukung tindakan tidak jujur saya.
Semoga kelakuan saya tidak menjadi “budaya” pendidikan kita.
19 Juni, 2009 pukul 8:14 am
Wah Mas Akhta, perlu ulasan panjang tuh tentang guru-guru yang tertekan karena siswanya “harus lulus” UN. Saya banyak menyaksikannya, karena saudara-saudara suami saya hampir semua guru.
19 Juni, 2009 pukul 12:00 pm
Tujuannya waras.. tapi jamannya edan bu..
19 Juni, 2009 pukul 12:54 pm
Itulah makannya kita harus membuat sistem yang tidak tergerus zaman (cek bahasa kerennya mah). Supaya orang terpaksa beruat jujur, gimana?
19 Juni, 2009 pukul 5:09 pm
Oke, tujuan baik memang memerlukan “strategi” agar tidak berdampak buruk