Siapa Saya?

Pelajaran pertam menulis adalah memperkenalkan diri. Saya harus mengakui saya adalah sedikit introvert. Jadi, agak susah membuka diri kepada orang baru. Sekarang harus terbuka kepada semua orang yang membaca blog saya? Huh..saya coba. Kayaknya bakal panjang deh ceritanya, mungkin agak membosankan.

Masa Kecil sampai SMA

Nama saya Yanti Yulianti, lahir di Ciamis, 19 Desember 1975 (Nggak apa-apa deh saya tidak alergi diketahui umur). Orang tua saya asli sunda. Saya besar sampai SMA di Ciamis. Saya anak ke-1 dari 4 bersaudara. Masa kecil saya adalah masa yang sangat bahagia. Pokoknya, kalo pulang ke Ciamis  sangat senang mengingat-ingat masa-masa kecil dahulu. Bapak saya PNS, ibu saya ibu rumah tangga. Walaupun kami hidup di kampung, dengan kondisi keuangan pas-pasan, cita-cita kedua orang tua saya sangat tinggi. Mereka menginginkan semua anaknya belajar sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya. Hebat..

Sekolah saya dimulai dari TK Al-Quran. Pelajarannya membaca dan menulis huruf Arab, dan pelajaran-pelajaran dasar Agama Islam. Selesai TK, masuk sekolah dasar. Saya masuk sekolah dasar pada usia sebelum 6 tahun. Karena saya lahir di Bulan Desesember, sehingga Juli masuk sekolah belum genap 6 tahun. “Gak apa-apa, jadi anak bawang aja dulu”, kata Ibu saya waktu itu pada Gurunya (mana ada bawang punya anak, huh). Jadilah saya anak bawang, maksudnya sekolahnya gak serius-serius amat. Ajaib naik kelas juga, malah selanjutnya juara kelas terus (he he.. pamer kejayaan masa SD).

Selesai sekolah SD, masuk SMP. Sekolah yang menyenangkan, tanpa beban. Meski belajar semaunya, anehnya juara kelas terus tuh (maaf, pamer lagi deh). SMP tersebut adalah sekolah yang paling dekat dengan rumah ( padahal setiap hari harus jalan 1,5 km dari rumah). Waktu SMP saya cukup aktif di OSIS, Pramuka, kelompok menari, menyanyi dll.

Setelah menyelesaikan SMP, masuk SMA (SMA N 1 Ciamis). Lumayan agak ke kota sedikit, konon SMA pavorit di Ciamis. Perjalanan yang melelahkan pergi ke sekolah setiap pagi. Pertama, harus berjalan 1,5 km untuk sampai di jalan yang dilewati angkot. Selanjutnya naik angkot 30 menit. Waktu itu angkot masih langka, suka penuh tuh kalo pagi-pagi. Turun dari angkot masih harus jalan 200 meteran (karena sekolahnya agak masuk). Menyaksikan anaknya berjuang setiap pagi, Bapak saya turun tangan: “Mulai besok, jam 6 pagi sudah siap. Bapak antar sampai depan gerbang sekolah”. Wow, jadilah setiap pagi saya diantar Bapak saya ke sekolah setiap pagi dengan motor “kerennya” (selama 3 tahun!!) sambil berangkat kerja. Alhasil, Bapak saya adalah PNS yang datang ke kantor paling pagi di kota Ciamis (lebay deh).

Mulailah merasakan sekolah yang sebenarnya. Sudah menjadi pengetahuan umum, standard sekolah di Indonesia tidak sama. Lihatlah di sekelilingku, teman-temanku dari SMP yang top. Jago-jago Bahasa Inggris, NEM tinggi-tinggi. Waduh, harus belajar keras rupanya kalo ingin bersaing dengan mereka. Setiap hari saya belajar dan belajar.  Orang tua saya sampai bingung anaknya tidak berhenti belajar. Aneh yah?

Masa-Masa Kuliah

“Setelah SMA, mau kuliah di mana?”, pertanyaan standard untuk anak yang baru lulus SMA, termasuk saya. Awalnya, saya bercita-cita masuk ke jur Teknik Sipil. Jadilah saya mendaftar PMDK ke Jur Teknik Sipil Universitas Diponegoro. Rupanya ketinggian, gak diterima. Gak apa-apa, masih ada UMPTN. Tapi, milih jurusan apa ya? Teknik Sipil lagi? No, simpan saja cita-cita tersebut, pilih jurusan lain. Entah dapat ilham dari mana, saya memilih jur Fisika ITB. Lolos… Orang tua saya (kelihatannya) bangga sekali deh, soalnya pake ngundang tetangga segala untuk syukuran kelulusan UMPTN saya.

Perjuangan saya di SMA belum cukup. Kembali standard sekolah yang tidak sama. Tahun-tahun pertama adalah tahun adaptasi yang cukup berat. Walaupun saya sudah biasa belajar keras, tapi itu saja tidak cukup. Harus belajar bagaimana belajar.  Waktu saya harus dibagi kuliah, praktikum, laporan sekaligus ujian. Waktu istirahat hanya hari Minggu (itupun biasanya diisi membuat laporan). Sebuah perjuangan untuk orang yang punya kecerdasan standard tapi punya cita-cita tinggi.

Akhir masa kuliah, tentu saja diharuskan menulis laporan tugas akhir (skripsi). Sebelumnya harus menentukan minat dan bakat KBK (Kelompok Bidang Keahlian) . Memilih apa ya? Waktu itu, di Fisika ITB ada Fisika teori (belajar teori-terori “aneh” di Fisika), Fisika material, Fisika Bumi, Komputasi, Elektronika, Biofisik dan Nuklir. Tanya sana, tanya sini (sama senior), saya menjatuhkan pilihan pada bidang Nuklir. Sebelum tugas akhir, saya  harus mengambil mata kuliah pilihan yang berhubungan dengan bidang tersebut. Asyik juga belajar Nuklir…

Pembimbingnya siapa? Waktu itu ada seorang dosen Fisika ahli nuklir, Bapak Sutrisno, Ph.D. Orangnya sangat hebat, dan sangat rendah hati. Saya datang ke ruangannya: “…Saya ingin menjadi mahasiswa bimbingan Bapak”. Jawab beliau: “Silahkan datang ke pertemuan KBK, pada hari…”. Ada beberapa dosen yang datang ke pertemuan tersebut, dan beberapa yang tidak saya kenal (mungkin baru pulang sekolah dari luar negeri). “..Saya sangat senang Anda mau jadi mahasiswa bimbingan saya. Tapi, antriannya masih panjang (maksudnya masih banyak bimbingannya yang belum lulus). Mohon maaf saya tidak bisa menerima mahasiswa baru. Kalau mau, saya perkenalkan Bapak ZS ini menjadi dosen pembimbing tugas akhir anda. Beliau baru pulang dari Jepang”. Itulah pertemuan pertama dengan dosen pembimbing tugas akhir saya.

Tugas akhir yang berat. Tahap pertama, analitik (analisis teori, penurunan rumus dll). Selanjutnya diharuskan membuat program komputer pemodelan reaktor nuklir. Kerja keras siang malam, bahkan sering tengah malam saya terbangun karena punya ide penyelesaian TA. Selesai juga.. Dengan demikian, terpenuhilah syarat saya menjadi sarjana (S.Si bo!).

Bekerja

Selesai kuliah (1998), semua orang bercita-cita bekerja di perusahaan terkenal dengan gaji tinggi. Tahun kelulusan saya, adalah tahun yang salah. Begitu lulus, krisis ekonomi besar-besaran. Suatu saat, saya membaca iklan di KOMPAS tentang beasiswa S2 ikatan dinas. Aha.. itu yang saya cari. Step pertama, harus mendapatkan rekomendasi dari universitas yang ada di daftar dari DIKTI. Universitas luar Jawa semua, yang paling dekat adalah Universitas Lampung (susah, orang sunda selalu ingin dekat kampung halaman). Jadila saya melamar ke sana, dan dipanggil wawancara.

Pertanyaan pada saat wawancara:”Suami anda bekerja di mana?”. Hah, pertanyaan apa itu. Saya jawab: “Maaf, saya belum menikah”. Pertanyaan selanjutnya: “Apa motivasi anda melamar menjadi dosen di sini?”. Apa ya, kayaknya cuma jalan untuk mendapatkan rekomendasi beasiswa deh (maafkan saya Pak). Pertanyaan lain: “Sebutnya tridarma perguruan tinggi!”. Tri apa Pak? Kayaknya baru dengar deh (bodoh, gitu aja gak tahu). Total wawancara tidak lebih dari 10 menit. Sepertinya gajah Ganesha sakti juga, walaupun wawancara terasa tidak memuaskan, saya diterima juga. Step selanjutnya melamar S2 fisika ITB, hmm lolos juga.

Karena perjanjian beasiswa mengharuskan mengajar di Universitas Lampung. Jadilah sekarang saya menjadi dosen di Universitas Lampung. Semua dosen (seharusnya) bergelar Doktor, saya sekarang mengambil S3 di ITB jurusan(sekarang Prodi) Fisika, bidang keahlian Reaktor Nuklir.

Menikah

Saya menikah pada tanggal 5 Agustus 2001. Penuh cinta (ciee), harapan, impian membangun rumah tangga yang bahagia. Alhamdulillah, sampai hari ini kami masih berbahagia dan sudah dikarunia 1 putra (sekarang 7 tahun, kelas 1 SD).

Tidak terasa, panjang juga tulisan saya (1082 kata). Bagaimana tulisan saya? Maaf ya, it’s a little bore article.

& Komentar


Tinggalkan Balasan